Oleh: Rohmadi Abu Khansa | Juni 17, 2009

Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam


Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam

Ekonomi Islam sepatutnya dilihat dalam satu kesatuan ilmu, tidak sepenggal-penggal. Dengan demikaan akan terlihat jelas bentuk bangunan bentuk bangunan keilmuan serta karakteristik aplikasinya. Kalaupun ada pada penggalan-penggalanya yang sama dengan sistem ekonomi lain (kapitalisme atau sosialisme), maka hal tersebut haruslah disikapi dengan bijaksana. Perlu dipahami penggalan tersebut merupakan rangkaian dari struktur ilmu Islam yang berkarakteristik khas, yang berbeda dengan konvensional.
Dari banyak prinsip-prinsip Ekonomi Islam yang disebutkan oleh beberapa pakar ekonomi Islam, dapat disimpulkan ada empat prinsip utama dalam sistem Ekonomi Islam yang disyaratkan dalam Al-Quran.
1. Hidup hemat dan tidak bermewah-mewahan (abstain from wasteful and luxurius living), bermaksud juga bahwa tindakan-tindakan ekonomi hanyalah sekedar untuk memenuhi kebutuhan (needs) bukan memuaskan keinginan (wants).
Menurut Dr. Yusuf Qordhowi ada dua syarat dalam berprilaku Konsumsi :
a. Konsumsi pada barang yang halal & baik, berhemat (seving), berinfaq (mashlahat) serta menjauhi judi, khomer, gharar & spikulasi.
b. Konsumsi yang menjauhi kemegahan, kemewahan, kemubadziran dan menghindari hutang.
2. Implementasi Zakat (implementation of Zakat), pada tingkat negara mekanisme Zakat adalah obligatory zakat sistem bukan voluntary zakat sistem. Dasamping itu ada juga instrumen sejenis yang bersifat sukarela (voluntary) yaitu infaq, shodaqoh, wakaf, dan hadiah.
Zakat mempunyai banyak fungsi diantaranya :
a. Memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan .
b. Memperkecil jurang kesenjangan Ekonomi.
c. Menekan jumlah permasalahan sosial, kriminalitas, pelacuran, glandangan, pengemis dll.
d. Menjaga kemampuan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha. Dengan kata lain zakat menjaga konsumsi masyarakat pada tingkat yang minimal, sehingga perekonomian terus berjalan.
3. Penghapusan/pelarangan Riba (probibition of riba), Ghoror dan Maisir, menjadikan sistem bagi hasil (profit-loss sharing) dengan instrumen mudhorobah dan musharokah sebagai pengganti sistem kredit (credit sistem) berikut instrumen bunganya (interest rate) dan membersihkan ekonomi dari prilaku buruk yang merusak sistem seperti prilaku menipu dan judi.
Dibawah ini ada beberapa dampak negatif dari implikasi Riba, diantaranya :
a. Volume yang terjadi dipasar uang (currenccy speculation dan derivative market) dunia berjumlah US$ 1,5 trillion dalam sehari sedangkan transaksi yang terjadi pada perdagangan dunia pada sector real hanya US$ 6 trillion setiap tahun.
b. Sepanjang abad 20, (Roy Davies dan Glyn Davies ; 1996) dalam buku mereka (a history of money from ancient times to the present day), telah terjadi lebih dari 20 krisis (kesemuanya merupakan krisis keuangan).
c. Hutang negara berkembeng lebih dari tiga trillyon US dollars dan masih terus tumbuh. Hasilnya adalah setiap laki-laki, wanita, anak-anak dinegara berkembeng (80 % dari populasi dunia) memiliki hutang $ 600, dimana pendapatan rata-rata pada negara yang paling miskin kurang dari satu dollar perhari.
4. Menjalankan usaha-usaha yang halal (permissible conduct); dari produk atau komoditi, manajemen, proses produksi hingga proses sirkulasi atau distribusi haruslah ada dalam kerangka halal. Usaha-usaha tadi tidak boleh bersentuhan dengan judi (maisir) dan spikulasi atau tindakan-tindakan lainya yang dilarang syariah. Meskipun demikian ada kaidah hukum (fikih) dalam islam yang cukup menjadi rujukan dalam beraktivitas beraktivitas ekonomi yaitu pada dasarnya aktivitas apapun boleh sampai ada dalil yang melarang aktivitas itu secara syariah.
Keempat prinsip utama ini tentu bukan hanya memberi batasan-batasan moral saja dalam aktivitas dan sistem ekonomi Islam, tetapi juga memiliki konskwensi-konskwensi yang menciptakan bangunan Islam begitu signifikan perbedaanya dibandingkan sistem ekonomi konvensional.
Konskwensi yang jelas sekali misalnya adalah eksistensi lembaga Baitul Mal sebagai respon langsung dari ketentuan implementasi sistem zakat dalam kebijakan fiscal negara. Atau dominasi konsep bagi hasil dalam dunia keuangandan investasi sebagai konsekwensi pelarangan bunga (riba).
Prinsip-prinsip ini utamanya dimaksudkan agar segala aktivitas manusia betul-betul dapat mencapai sebuah kesejahteraan kedamaian dan kemenangan dunia akherat (falah), sesuai dengan sistem ekonomi Islam itu sendiri. Prinsip-prinsip ini menjadi tuntutan garis besar dari prilaku individual dan juga kolektif.
Namaun keberhasilanya tentu saja bukan hanya bergantung pada kedisiplinan implementasi dari prinsip ini saja tapi juga harus didukung oleh usaha-usaha dalam krangka sistem Islam diluar aktivitas Ekonomi, seperti hukum, politik budaya dan lain sebagainya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: